top of page

"mengapa masuk Milisifilem?"

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Dec 21, 2018
  • 2 min read

Sering kali orang bertanya pada saya, “Mengapa masuk Milisifilem?” Mulai dari pertama kali ngobrol dengan Mbak Otty dan Bang Andang selaku pewawancara calon partisipan Milisifilem

Collective angkatan ketiga, sampai juga teman-teman di luar Forum Lenteng yang kerap melihat akun instagram saya yang mengunggah Story kegiatan Milisifilem Collective di Forum Lenteng.


Pertama kali pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya, saya menjawab secara diplomatis. “Saya suka filem,” jawab saya. “Tapi saya buta visual. Saya mau menelaah filem dari sisi visual.” Jika dipikir-pikir lagi, saya tidak tahu apa yang saya katakan waktu itu. Saya tidak paham betul apa yang dimaksud dengan ‘visual’, apalagi ‘menelaah filem secara visual’.


Dari pertemuan pertama Milisifilem kelas Anggrek pada Oktober 2018 lalu hingga pertemuan paling terakhir sebelum tulisan ini dibuat, tidak berhenti-berhentinya saya mendapat kejutan. Masih membekas rasanya ketika menggoreskan pensil pertama kali untuk membuat garis pertama kali di atas buku gambar. Tidak pernah saya membayangkan tangan saya memproduksi sesuatu, apa pun itu, di atas kertas gambar. Namun, tetap saja, hingga saat ini saya terus membuat sesuatu yang baru di atas kertas gambar. Dan saya bertahan—walaupun “sesak napas”.


Mengapa saya masuk Milisifilem? Lebih lagi—mengapa saya tetap bertahan di Milisifilem, memproduksi karya di atas kertas gambar, padahal saya tidak begitu paham apa itu seni, apa itu visual, apa rasanya dan implikasinya jika saya (ingin) menjadi seniman?


Pada detik ini, saya hanya terpikir satu jawaban: saya ingin belajar. Segala ilmu pengetahuan yang saya dapat di Milisifilem—tidak hanya bagaimana memproduksi karya dengan berbagai medium, tapi juga segala teori dan sejarah seni—saya serap dengan senang hati dan saya jadikan koleksi di perpustakaan pengetahuan saya. Milisifilem Collective bukan hanya sebatas tempat berkarya, tapi tempat untuk belajar, mengembangkan diri, dan menembus batasan-batasan diri yang tadinya saya pikir tidak mampu saya tembus. Sayang sekali, saya rasa, jika saya tidak bertahan dalam tempat belajar yang positif dan life-changing seperti ini.


Karya-karya yang terpajang dalam pameran—dan juga pameran ini sendiri—adalah jejak, rekam, serta bukti saya dan juga teman-teman Milisifilem kelas Anggrek dalam berproses menyerap pengetahuan dan mengembangkan diri. Jejak ini akan terus bertambah, berbanding lurus seiring dengan pengetahuan yang kami serap, dan pameran ini adalah salah satu jejak kami dalam satu titik proses pembelajaran yang akan terus kami lakukan di Milisifilem Collective. *



_________________


tulisan ini dibuat sebagai satu dari lima pernyataan artistik untuk pameran "Bagus, sih, Tapi...", 21 Desember 2018.


written as one of five artistic statements for the exhibition "Bagus, sih, Tapi..." ("Well, It's Good, But..."), December 21, 2018.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page