top of page

Menyelami Bromocorah

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Aug 19, 2019
  • 3 min read

____________________

Setelah sesi pidato kunci Otty Widasari secara apik menetapkan landasan perbincangan bromocorah dalam Forum Festival dan juga keseluruhan rangkaian ARKIPEL tahun ini, panel pertama Forum Festival yang bertajuk “Bromocorah: Posisinya dalam Konteks Sosial, Politik, Kultural” akan menyelami bingkaian bromocorah. Panel ini hendak mendalami setiap seluk kompleksitas bromocorah dalam konteks wilayah Indonesia, Asia, dan Amerika Latin. Panel ini berlangsung di GoetheHaus, Goethe-Institut Indonesia pada 19 September 2019, dengan mengundang tiga ahli dan akademisi: Manneke Budiman (pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia), Philippa Lovatt (akademisi dari Inggris dengan fokus studi sinema Asia Timur dan Asia Tenggara), dan Ronny Agustinus (ahli studi kawasan Amerika Latin), dimoderatori oleh Prashasti Wilujeng Putri. Bicara tentang bromocorah tentu tak lepas dari bicara tentang sistem. Posisi bromocorah selalu berada di luar sistem, namun eksistensi bromocorah pun berjalan beriringan dengan eksistensi sistem. Pembicara pertama, Manneke Budiman, memaparkan telisikannya terhadap ambiguitas representasi bromocorah dalam Sastra Indonesia. Dalam karya cerita pendek Mochtar Lubis berjudul Bromocorah, si bromocorah digambarkan secara manusiawi – ia merupakan suami dan ayah yang menyayangi keluarganya. Ia melakukan perlawanan terhadap sistem sekonyong-konyong karena ia adalah korban dari sistem itu sendiri, menempati posisi ampas masyarakat dan secara subjektif merasa terasing dari kehidupan kampungnya walau tak semua warga kampung menempatkannya sebagai orang asing. Perasaan subjektif ini kemudian membentuk kelas sosial yang sama sekali berbeda – bukan jelata, bukan elit, namun menempati ruang kosong yang tak dapat diisi kemapanan sistem dan eksistensinya selalu ada namun tak pernah diakui. Sementara dalam karya berjudul Jante Arkidam, karakter bernama sama dengan judul puisinya digambarkan sebagai bromocorah – si penjahat tulen – yang merampok, berjudi, mabuk, dan main perempuan, serta kerap menantang aparat keamanan. Selain menunjukkan sisi lain representasi bromocorah, Jante Arkidam juga menyiratkan kritik terhadap kegagalan sistem negara yang seharusnya berfungsi menjaga kestabilan dan keajegan. Di akhir paparannya, Manneke menyimpulkan bahwa bromocorah merupakan pelaku sekaligus korban, ia seperti virus parasit yang menempati ruang vakum yang tak terjamah sistem yang sakit. Menggeser pandangan ke kawasan Asia lain, Philippa Lovatt memaparkan kebromocorahan antologi Ten Years Thailand (2018). Filem yang dibuat dalam budaya sensor seringkali harus mengambil bentuk aktivisme klandestin untuk bernegosiasi dengan pembatasan oleh sistem. Instabilitas politik yang terjadi di Thailand pasca kudeta dan wafatnya Raja Bhumibol Adulyadej membuat kiasan literatur dan sinema distopia seolah tercermin dalam realita sehari-hari. Empat karya dalam antologi Ten Years Thailand ini – Sunset karya Aditya Assarat, Catopia karya Wisit Sasanatieng, Planetarium karya Chulayarnnon Siriphol, dan Song of the City karya Apichatpong Weerasethakul – kemudian mengambil bentuk dunia distopia sebagai penggambaran dan kritik terhadap situasi politik Thailand yang tak ubahnya realita distopia. Imajinasi politis yang digambarkan dalam empat karya ini menyerukan dengan lantang penggalian atas masa lalu dan masa depan, menelusuri masa lalu untuk menawarkan harapan masa depan yang radikal, terwujud dalam potensialitas bromocorah.


Kawasan Amerika Latin pun menawarkan kekayaan kompleksitas kultural yang tak kalah menarik dalam perbincangan bromocorah. Telaahan Ronny Agustinus atas bandit-bandit sosial yang melegenda di Amerika Latin dimulai dari tokoh Joaquin Murrieta, peternak-penggembala asal Meksiko yang bermigrasi ke California pada tahun 1850–an. Ia mengalami berbagai diskriminasi, mendorongnya pada aksi pembalasan dendam hingga menjadi tokoh yang ditakuti. Kisah hidupnya telah bercampur dengan mitos – identitas aslinya dicabut dan dibubuhi dengan identitas apa saja, menjadi ikon bromocorah bagi siapa saja. Fiksi dan fakta tak lagi soal bagi konstruksi identitas kebromocorahannya. Selama ketidakadilan terjadi, maka bromocorah akan selalu eksis.


Seusai ketiga pembicara selesai, audiens dipersilakan untuk bertanya atau menanggapi. Giliran pertama, Mas Budi Irawanto dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) bertanya kepada Manneke tentang romantisasi bromocorah dalam karya sastra sebagai cara menyembunyikan antagonisme. Ia juga bertanya pada Philippa tentang bentuk yang paling signifikan atas potensialitas bromocorah dalam aktivisme – apakah bentuk eksperimentasinya, atau penggambaran resistensi terhadap citra resmi masyarakat.


Manneke menjawab bahwa romantisasi ini bukanlah bentuk kenaifan para seniman, namun justru itu menjadi poin subversif terhadap wacana dominan negara. Sementara itu, Philippa menjawab bahwa potensialitas bromocorah dalam filem – tidak hanya budaya filem Thailand namun juga budaya filem global – terletak pada kemampuannya untuk menjembatani diskusi publik, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan membawa pertanyaan-pertanyaan politis ini ke ruang-ruang publik.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page