top of page

Bagaimana Film Seharusnya Merekam Realita Kekerasan Urban?: Last Night I Saw You Smiling

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Nov 8, 2020
  • 2 min read

Penanda-penanda sejarah dapat ditemui tak hanya dalam momen-momen dan teks yang mencatatnya, ia juga dapat ditemui secara fisik pada bangunan dan gedung yang menempati sebuah ruang. Gedung Putih, yang awalnya dikenal sebagai Apartemen Kota, adalah salah satu gedung penanda sejarah di Phnom Penh, Kamboja. Ia adalah penanda Kamboja modern dan berdiri melalui berbagai momen sejarah, termasuk naik dan runtuhnya rezim Khmer Merah, dan akhirnya menjadi salah satu pusat kehidupan kota yang ditinggali oleh hampir 500 keluarga yang berasal dari beragam latar belakang, dari pegawai negeri hingga seniman. Pada 2017, akhirnya Gedung Putih ini dibeli oleh perusahaan Jepang, menandai akhir dari kehidupan di gedung ikonik ini dan membuat 500 keluarga yang tinggal di sana harus keluar dari tempat tinggal mereka.


Last Night I Saw You Smiling (2019) karya Kavich Neang merekam hari-hari terakhir kehidupan di Gedung Putih sebelum ia rata dengan tanah. Warga Gedung Putih merupakan sebuah komunitas yang sangat dinamis, dan mereka sangat lekat dengan memori dan kehidupan mereka di sana. Neang tidak merekam Gedung Putih sebagai memorial terhadap gedung itu sendiri, namun pada warga yang memberi dan menyematkan makna dan dinamika serta menghembuskan kehidupan pada komunitasnya di ruang tersebut. Gedung Putih adalah rumah dan ruang penuh afeksi bagi 500 keluarga, dan Last Night I Saw You Smiling dengan empatik memperlihatkan bagaimana ruang tersebut dihidupi oleh para warganya, dan kemudian bagaimana ketika komunitas tersebut harus menghadapi (coping with) kebingungan, ketidakpastian, dan kehilangan yang menanti di ujung jalan.


Dengan mengambil posisi yang sangat empatik sebagai salah satu bagian dari warga Gedung Putih, Neang merekam film ini sungguh sederhana, intim, dan “kecil”—tidak perlu berpusing-pusing mencari cara menguak kengerian kapital, pembangunan, dan ‘gentrifikasi’ global. Hal ini terkuak ‘dengan sendirinya’ melalui fragmen-fragmen kecil dokumentasi keseharian warga. Apa yang personal dapat menjadi sebuah gambaran alternatif yang subversif atas apa yang dominan. Bahwa ruang urban yang terus dituntut untuk mengejar pembangunan global dan menyebabkan gentrifikasi ini memiliki dampak riil pada pribadi dan komunitas (warga) yang riil pula. Neang tidak menampilkan atau menyebutkan siapa pihak-pihak di ‘atas sana’ yang menggusur warga, atau menelisik alur kapital yang berujung pada pembelian area Gedung Putih. Namun, dengan merekam komunitasnya sendiri, apa-apa yang ada di ‘atas sana’ kemudian tidak lagi jadi penting (dalam moda rekamannya), dan dampaknya tetap terlihat sama dan bahkan lebih terasa.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page