top of page

Dongeng Hikayat Bangsa Filipina dalam A Lullaby to the Sorrowful Mystery

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Dec 12, 2020
  • 2 min read

Sebuah bangsa yang ‘kebangsaan’nya larut dalam polemik pencarian identitas pasca kolonialisme seringkali jatuh bangun dalam perjalanan panjang, acap kali melihat ke belakang menapaki kembali jejak yang telah ditinggalkan, ataupun terhenti langkahnya merenungkan jalan setapak mana yang akan dilangkahi di kemudian hari. A Lullaby to the Sorrowful Mystery (2016) adalah sebuah refleksi puitis akan perjalanan panjang tersebut—menelusuri langkah-langkah kecil di tepi arus utama (mainstream) riwayat Filipina.


Tidak ada karakter utama dalam film ini. Bahkan tidak Jose Rizal, acap kali digaungkan sebagai tokoh sentral bangsa Filipina dalam masa perang kemerdekaan, yang namanya pun puluhan kali disebut dalam film, namun sosoknya tak pernah terlihat dan cerita hidupnya tak terekam kamera. Lullaby merekam langkah-langkah kecil di tepian arus yang dijajaki oleh tokoh-tokoh non-heroik yang terpinggir dalam narasi sejarah Filipina, fiksi maupun nyata—merajut simpul benang-benang yang masing-masing helainya berdiri sendiri menjadi rajutan hikayat bangsa Filipina. Sebuah epos perjuangan kemerdekaan tanpa pahlawan—hanya ada dua orang janda, seorang pelacur, seorang pak tua sesakitan, intelektual tak berjasa di bawah bayang-bayang Sang Dokter, pengkhianat yang sekarat, dan tokoh-tokoh lain yang bermunculan dalam kamera. Tidak ada yang penting. Tidak ada pula yang tak penting. Penting atau tidak kemudian tak lagi soal dalam bingkai kamera: mereka adalah bangsa Filipina, bagian dari sejarah, bagian dari cerita, bagian dari identitas kebangsaan.


Tidak ada intensi struktur naratif linear yang berupaya menguak sesuatu dalam Lullaby. Menit pertama dan menit 485 berisikan bobot yang sama: ini adalah perjuangan sebuah bangsa dalam pencarian. Bahwa Gregoria dan Simon tidak menemukan kesimpulan dari perjalanan mereka dalam film adalah sebuah refleksi panjang dari realita pascakolonial Filipina yang belum, dan tidak boleh, selesai hingga detik ini. Refleksi ini tak seharusnya linear—refleksi realita pascakolonial adalah jalan setapak yang kerap maju, kerap mundur, berkelok-kelok, dihadang rintangan, berputar-putar di lingkaran yang sama, dan belum selesai.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page