top of page

Tentang Gambar yang (Belum) Hilang: The Missing Picture

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Nov 8, 2020
  • 2 min read

17 April 1975 menjadi hari yang sangat lekat dalam memori rakyat Kamboja, menandai sebuah titik balik dalam kehidupan mereka. Khmer Merah, nama lain dari sayap militer Partai Komunis Kamboja, telah memenangkan perang sipil dan mengambil alih kuasa. Rezim ini, yang kemudian disebut ‘Angkar’, kemudian berkuasa hingga 1979. Meski hari itu, dan hari-hari setelahnya, menancapkan memori dan bahkan trauma mendalam pada benak masyarakatnya, tidak ada arsip berbentuk image yang dapat ditemukan yang menunjukkan memori-memori dan trauma-trauma tersebut—terdapat gambaran yang hilang atas ingatan-ingatan traumatis tentang rezim Angkar. Dalam ketiadaan tersebut, Rithy Panh dalam The Missing Picture (2013) kemudian mencoba merekonstruksi ingatan tentang masa kecilnya ketika Angkar berkuasa, sebagian besar melalui diorama yang kemudian juga dikombinasikan dengan footage-footage yang tersisa dari propaganda Angkar tentang utopia masyarakat agraris Kamboja.


Dalam perdebatan keterhubungan agen dan struktur, persoalan yang kerap dipertentangkan adalah apakah realita sosial dibentuk oleh agen atau struktur; apakah agen memiliki kemampuan untuk mempengaruhi atau ‘mengubah’ struktur, ataukah agen akan selalu dibentuk atau ‘dihimpit’ oleh struktur. Namun, tulisan Akbar Yumni di Jurnal Footage menyingkap bagaimana The Missing Picture menyoal tentang pencarian dan penciptaan image yang berangkat dari pengalaman yang sangat personal memiliki kemungkinan kekuatan subversif atas apa yang diproduksi oleh yang dominan. Sinema kemudian menjadi sebuah medium yang memampukan Rithy Panh sebagai agen untuk melakukan subversi terhadap narasi dominan tersebut, membangun jembatan di antara ‘kenyataan’ yang memiliki jarak-jarak historis serta arsip-arsip yang ‘hilang’ berdasarkan kemungkinan-kemungkinan konstruksi memori personal yang terbingkai. Ia kemudian tidak mempertentangkan antara agen vs. struktur, tapi menempatkan keterhubungan tersebut sebagai relasi timbal-balik meski cukup antagonistik: bagaimana Angkar menanamkan pengalaman traumatis dalam memori Panh, dan bagaimana kemudian Panh menyikapinya dengan merekonstruksi memori tersebut melalui sinema.


Apa yang personal kemudian juga bisa ditarik ke dalam konteks struktur yang lebih luas, dalam skala yang lebih besar: pengalaman Rithy Panh merupakan refleksi skala pribadi atas kekerasan yang berlangsung dalam skala global. Pengalaman traumatis Panh merupakan fragmen kekerasan yang terjadi dalam konteks yang lebih besar, tidak hanya dalam satu negara Kamboja, tapi seluruh kawasan Asia Tenggara sebagai ground zero Perang Dingin. Panh kemudian memberi sedikit gambaran tersebut, bahwa Khmer Merah dapat berkuasa karena dukungan dari para petani yang murka akibat bom-bom Amerika Serikat di tanah-tanah mereka—meski pada akhirnya para petani tersebut tetap harus mengalami nasib yang tak berubah, tak seperti utopia agraris yang dijanjikan Pol Pot. Sayangnya, memang ruang percakapan atas konteks global ini tidak terlalu luas disajikan dalam film—bahkan mungkin ia secara tak sadar justru melanggengkan apa yang disinggung Intan Paramaditha di Panel 3 Forum Festival sebagai fascinating cannibalism, yaitu sebuah cara tatap yang menggambarkan kekejian dan kekerasan di dunia ketiga “yang barbar tapi savage, seperti Anwar Congo”—dan memang kebetulan, di banyak artikel, The Missing Picture banyak disandingkan dengan Jagal (2012, dir. Oppenheimer).

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page