top of page

Budaya Tutur Asia Tenggara dalam Mysterious Object at Noon dan The Big Durian

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Oct 25, 2020
  • 2 min read

Tahun 2000-an merupakan periode yang menandai sebuah era baru yang merepresentasikan keterbukaan akses informasi dan kemudahan akses teknologi. Keterbukaan dan kemudahan ini kemudian menggaungkan sebuah seruan, “siapa saja bisa membuat karya audio-visual, termasuk film!” Pembuatan film tidak lagi menjadi sebuah pembuatan karya yang eksklusif. Dan hal inilah yang mendorong kemunculan banyak orang yang membuat karya-karya audio-visual dan film, terlebih lagi film ‘eksperimental’.


Keterbukaan dan kemudahan akses menandakan persebaran medium pembuatan karya yang lebih luas dan penggunaan yang lebih mudah bagi masyarakat umum, membuka peluang besar untuk membaca dan mengeksplorasi bahasa yang lebih dekat dengan realita umum. Apichatpong Weerasethakul (Thailand) dan Amir Muhammad (Malaysia) memanfaatkan peluang ini dalam film mereka, Mysterious Object at Noon dan The Big Durian. Meski keduanya mengambil subjek pembicaraan yang berbeda, keduanya sama-sama menggunakan peluang yang dihadirkan oleh medium video untuk membuat film yang mengeksplorasi bahasa film. Menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang menyadari ada sebuah ‘objek misterius’ yang jatuh dari rok gurunya, Mysterious Object at Noon mengembangkan narasinya dengan menemui beberapa orang-orang secara acak untuk melanjutkan dan merangkai cerita tersebut. The Big Durian juga mewawancarai beberapa orang, beberapa secara acak, untuk ditanyai tentang insiden penembakan di Jalan Chow Kit dan juga kondisi sosial-politik Malaysia lebih luas. Amir bahkan sengaja menggabungkan dokumenter dan fiksi dalam penceritaannya.


Dengan kedua metode tersebut, Apichatpong dan Amir mencoba mengeksplor suatu topik secara rhizomatik dari perspektif akar rumput, alih-alih mengonfirmasi dari sumber perspektif ‘awal’ atau ‘resmi’, perspektif dominan yang menentukan arah narasi yang harus diikuti dan dipatuhi. Apichatpong dan Amir tidak hanya mencoba memahami subjek topik, namun juga ‘struktur’ film. Kedua film tersebut kemudian mencerminkan budaya tutur masyarakat Thailand, Malaysia, dan lebih luasnya lagi Asia Tenggara, sebagai moda distribusi informasi dan pengetahuan; dan mengeksplor budaya tutur tersebut dalam bingkaian medium audio-visual. Budaya tutur tidak dilihat secara berjarak dalam film untuk ‘dipelajari’, namun dimanfaatkan dengan baik sebagai bahasa film. Informasi dan pengetahuan juga tidak dipandang sebagai ‘barang sakral’ yang harus dipreservasi objektivitas dan keabsahannya. Subjektivitas dari informasi dan bagaimana komunitas memproses informasi tersebut menjadi suatu elemen yang penting sebagai pengetahuan itu sendiri.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page