top of page

Cerita-Cerita Warga di bawah Neoliberalisme Jakarta-Manila 70'an

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Oct 11, 2020
  • 2 min read

Updated: Dec 14, 2020

Dekade 1970-an dalam memori sejarah yang ditanamkan secara resmi melalui institusi-institusi pendidikan terasa sangat optimis: setelah dekade sebelumnya dipenuhi gejolak instabilitas politik, dekade ini menawarkan kesempatan untuk bangun dan pulih kembali. Keran investasi dibuka selebar mungkin, ditandai dengan pembangunan yang menjamur di mana-mana. Kota-kota besar mengalami pertumbuhan yang pesat, menjanjikan lapangan pekerjaan, berbagai keuntungan, dan kehidupan modern.


Keuntungan tersebut jelas dinikmati oleh kelas menengah ke atas di kota: perkembangan teknologi yang perlahan mulai membuka akses informasi, pendidikan kualitas tinggi yang menjamin lapangan pekerjaan, hingga gaya hidup modern yang dapat mudah diraih. Namun, di balik gembar-gembor pembangunan ekonomi di bawah arus modernisasi dan kebijakan-kebijakan neoliberal, tidak semua orang memiliki memori manis tentang 1970-an.


Film Manila in the Claws of Light (1975), Jakarta Jakarta (1977), dan Pengemis dan Tukang Becak (1978) masing-masing berjarak 1-2 tahun menangkap realita sosial Jakarta dan Manila dekade 1970-an. Manila berkisah tentang seorang pemuda desa yang mencari kekasihnya ke kota. Jakarta Jakarta dibuka dengan adegan pemuda rantau asal Sumatera Utara yang baru saja sampai di Pelabuhan Jakarta. Pengemis dan Tukang Becak, seperti judulnya, berkisah tentang seorang pengemis dan tukang becak dalam settingan urban. Meski memiliki narasi yang berbeda, ketiga film ini membisikkan hal serupa: ini adalah elegi kemiskinan kota yang tergilas roda ekonomi, terhenyapkan dentuman pembangunan kota. Urbanisasi adalah janji kosong bagi ia yang tak punya modal, dan gaya hidup modern hanya bagi mereka yang tak lagi dipusingkan dengan keharusan bertahan hidup. Ruang kota gedongan dengan lampu cerah warna-warni yang tak pernah mati 24 jam adalah ruang yang sama dengan permukiman kumuh di samping rel, di bantaran sungai, maupun persis di seberang apartemen mewah. Julio, Ligaya, dan kawan-kawan dalam Manila harus menyambung hidup di dalam pusaran eksploitasi tubuh yang bahkan para pelakunya tidak segan-segan mengeksekusinya secara terang-terangan. Jakarta Jakarta dengan satir yang nakal menghadirkan montase bolak-balik yang sangat apik antara dentuman pembangunan gedung megah dengan toko bengkel yang tergusur. Pengemis dan Tukang Becak menghadirkan bagaimana sulitnya bertahan di kota yang menuntut penduduknya untuk menjual apapun yang tersisa dari dirinya.


Cerita-cerita yang ada di Manila maupun di Jakarta pada dekade 1970-an tak akan lepas dari gambaran yang lebih besar tentang urbanisasi dan pembangunan kota di bawah rezim neoliberal – dan bingkaian tiga filem di atas mengonfirmasi gambaran besar tersebut.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page