top of page

Jakarta 80-an dalam Opera Jakarta dan Cintaku Dirumah Susun

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Oct 18, 2020
  • 2 min read

Setelah Indonesia (Jakarta, lebih tepatnya, atau Pulau Jawa) menyaksikan ledakan pembangunan akibat ‘keberhasilan’ dua periode awal REPELITA pada dekade 70’an, dekade 80’an menawarkan ‘stabilitas’ hasil pembangunan dekade sebelumnya. Kehidupan urban metropolitan sudah menjadi pemandangan mata yang normal, baik itu ruang kota yang makin dijamuri gedung-gedung bertingkat dan rumah mewah maupun daerah permukiman padat penduduk. Diversitas latar belakang dan gaya hidup antar-warga kota makin banyak, dan makin ‘ternormalisasi’ — demikian juga kesenjangan.


Dua film berlatar ibu kota Jakarta dekade 80’an, Opera Jakarta (1985) dan Cintaku Dirumah Susun (1987) nampak seperti sketsa kehidupan urban yang sudah ‘stabil’ dan ‘mapan’, bahwa kesenjangan adalah hal yang ‘sudah normal’, sudah umum menjadi ‘latar’ dari kehidupan kota. Disjungsi antara warga kelas bawah—yang umumnya pindahan dari desa dan menempati daerah padat penduduk, atau bekerja sebagai pekerja kerah biru—dan warga kelas atas disandingkan tanpa perbandingan yang tajam. Namun, bukan berarti film-film ini tidak memberi refleksi kritis atas sketsa urban yang ‘mapan’ tersebut.


Opera Jakarta menceritakan tentang pertemuan seorang petinju yang datang dari desa dan seorang puteri keluarga kaya. Kehidupan Joko, sang petinju, dan Rum, sang ‘bidadari’, tentu berbanding terbalik—Joko sepanjang hidupnya harus bekerja dan berkelana kesana kemari, sementara Rum dimanja pamannya dan menikmati perhatian dari banyak orang. Pertemuan kedua latar belakang ini memang dapat menarik perhatian dalam representasi cerita—selain karena banyaknya tegangan yang dapat menjadi bahan dalam alur cerita, ia memuat unsur eskapis yang mungkin ditawarkan pada pembaca/penonton. Namun, Opera Jakarta tak serta merta abai pada realita (kelas) sosial yang sangat melekat pada kedua tokoh. Setelah berbagai hal yang dilalui Joko dan Rum, pertemuan kedua latar belakang ini tak semulus yang dibayangkan, dan ditutup dengan akhir di mana Rum tetap harus menikahi pria yang mempertahankan kelas sosialnya dan Joko tetap tidak mengalami mobilitas sosial.


Sementara, Cintaku Dirumah Susun dengan sketsa komikal tentang kehidupan urban di rumah susun dengan halus menyelipkan kritik sosial dalam kombinasi komposisi visual kehidupan dalam bangunan rumah susun, tokoh-tokoh penghuni rumah susun kelas pekerja dengan latar belakang beragam yang memungkinkan relasi dan tegangan sosial yang beragam pula, dipadu dengan tokoh-tokoh kelas menengah ke atas di luar rumah susun yang juga menghasilkan tegangan dengan penghuni rumah susun, serta humor-humor menyentil. Meski tidak terang-terangan memposisikan tokoh-tokoh kelas menengah ke atas secara antagonistik, humor Nya’abbas Akup memperlihatkan betapa konyol dan gagapnya tokoh-tokoh ini ketika berhadapan dengan realita kelas pekerja—konflik, kekusutan, dan tegangan sosial dalam klimaks film hadir ketika para kelas menengah ke atas ini masuk ke dalam rumah susun. Namun, bukan berarti kehidupan rumah susun berada dalam kondisi damai sebelum masuknya para kelas menengah ke atas; tegangan jelas-jelas sudah diperkenalkan dari awal film, merepresentasikan bahwa ruang komunal tidak menjamin harmoni komunal, terutama dalam setting urban yang mengalienasi kehidupan warga dan menyederhanakannya menjadi transaksi modal. Kehidupan urban di Jakarta adalah kehidupan yang penuh dinamika dan tegangan, dan Nya’abbas Akup berhasil menangkap dan membungkus dinamika tersebut dengan humor yang tak abai pada realita sosial.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page