Narasi Pinggiran dalam Tatapan Kolonial: Reassemblage dan When The Tenth Month Comes
- Pychita Julinanda

- Oct 18, 2020
- 2 min read
Representasi negara ‘dunia ketiga’ yang dipenuhi taburan gambaran kemiskinan, keterbelakangan, perpecahan dan instabilitas pasca-kemerdekaan dan/atau pasca-perang telah menjadi narasi dominan yang hinggap di benak banyak orang awam, bahkan di benak masyarakat ‘dunia ketiga’ itu sendiri. Distribusi pengetahuan yang berpatok pada sistem pendidikan dan linimasa progres peradaban Barat kerap melanggengkan representasi tersebut, dan mempengaruhi cara kita menatap, memandang, mengetahui, dan mempelajari tentang masyarakat ‘dunia ketiga’. Dua film karya sutradara Vietnam, Reassemblage (1982) dan When The Tenth Month Comes (1984), dapat menjadi salah satu karya yang menentang tatapan kolonial.
Trinh T. Minh-ha lewat Reassemblage secara tegas menyatakan sikapnya menampik tatapan (gaze) kolonial tentang masyarakat ‘dunia ketiga’, dengan susunan montase tanpa narasi diiringi dengan pernyataan-pernyataannya yang menolak ‘menceritakan tentang budaya’ / hanya berbicara ‘seputarnya’ (I do not want to talk about culture / just nearby). Tak hanya menentang tatapan kolonial dalam medium audio-visual yang membuat jarak antara narator, penonton, dan ‘objek’ studi (a la National Geographic), Reassemblage dengan pendekatan studi visualnya lebih luas lagi menentang dominasi narasi pengetahuan (etnografi) kolonial yang memperlakukan masyarakat ‘dunia ketiga’ sebagai objek yang dapat dipelajari dari ketinggian menara gading peradaban Barat. Meski bukan budayanya sendiri, Trinh dapat menempatkan diri dengan tepat ketika berbicara ‘seputar’ Senegal --- empatik, namun tegas, namun juga tak mengatasnamakan subjek-subjek perempuan Senegal.
Atau mungkin, justru itu; justru karena bukan budayanya sendiri, Trinh, dengan latar belakang kebangsaan negara pascakolonial, (harus) bisa menempatkan diri dengan tepat.
Vietnam, kampung halaman Trinh, juga merupakan salah satu negara yang masyarakatnya terkena hantaman keras dampak kolonialisme dan imperialisme. When The Tenth Month Comes karya Đặng Nhật Minh, film melodrama tentang seorang istri yang suaminya meninggal di medan perang, menggambarkan dampak perang Vietnam secara lebih dekat, intim, dan nyata terhadap kehidupan seorang istri, seorang ayah, seorang anak, dan sebuah komunitas masyarakat. Dampak ini bahkan telah terasa selama bertahun-tahun antar-generasi, direpresentasikan secara apik oleh elemen magis; mitos cerita rakyat khas Vietnam. Tak ada tatapan yang memandang Vietnam dari jarak jauh ‘objektif’ maupun ketinggian menara gading peradaban Barat --- When The Tenth Month Comes hanya sebuah kepingan cerita kecil dari masyarakat Vietnam sendiri yang menghadirkan sisi lain dari narasi kolonial tentang Vietnam pasca-perang yang digerogoti kekerasan, ketidakpastian, dan kekacauan.
Kedua film tersebut hanyalah sebuah kepingan kecil dari sebuah komunitas masyarakat yang memiliki kultur dan sejarah Panjang. Namun, mungkin, kiranya kepingan-kepingan kecil-lah yang justru dapat menawarkan sebuah pandangan lain dari narasi dominan kolonial yang terlampau ‘besar’.



Comments