top of page

Polemik Jagal dalam Kekuatan Bingkaian Sinema

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Nov 1, 2020
  • 2 min read

Sebagai film yang mengangkat topik ‘sensitif’ seputar tragedi politik pembunuhan massal tahun 1965 yang bahkan sampai sekarang kejelasan sejarahnya enggan diakui secara resmi oleh negara, Jagal (2012) tentu menarik perhatian publik yang cukup tinggi. Mengikuti jejak Anwar Congo, preman paling ditakuti se-antero Medan, dan kawan-kawan serta kroninya, Joshua Oppenheimer menguak kejadian tahun 1965 dari rekonstruksi serta wawancara dengan mereka.


Sebagai film, Jagal merupakan karya yang apik --- metoda ‘film dalam film’ yang kemudian membaurkan elemen fiksi ke dalam dokumenter memberikan banyak informasi, baik dalam rekaman prosesnya (para ‘pemain film’ kemudian justru banyak membeberkan informasi dan bahkan persepsi subjektif mereka terhadap peristiwa 1965 dalam proses pembuatan film, mungkin sebagian juga akibat dari bingkaian rekonstruksi yang mereka lakukan sendiri yang memicu berbagai memori serta persepsi pribadi baik dari masa lampau maupun dari yang baru terpikirkan sekarang) maupun dari ‘hasil’ film dalam film tersebut yang montase (fiksi) nya dimasukkan ke dalam dokumenter, memberi layer lain terhadap diseminasi informasi yang coba dilakukan.


Kekuatan sinema juga benar-benar dipertontonkan dalam film ini. Selain dari moda penceritaan ‘film dalam film’ dan montase yang cukup menggelitik dalam menyampaikan berbagai informasi, ia juga nampak dari film yang dirasakan dan dipercayai oleh Anwar Congo, dan kroni-kroninya. Anwar Congo percaya akan kekuatan dari ‘film’ yang dibuatnya bersama Oppenheimer akan membuatnya terlihat sebagai seorang ‘pahlawan’ atau ‘protagonis’. Kawan-kawan bahkan pejabat juga kemudian mempercayai hal tersebut, dan akhirnya mau berpartisipasi serta mengajak orang-orang untuk ikut bermain dalam film. Mereka percaya akan kekuatan bingkaian sinema, yang [dipikirnya] akan berpihak pada mereka. Hal ini kemudian tak lepas dari pengaruh film Penumpasan Pengkhianatan G30SPKI (Arifin C. Noer, 1984) sebagai propaganda yang dianggap ‘efektif’ dalam membingkai persepsi bangsa terhadap PKI, yang kemudian juga disinggung oleh para preman dalam film. Tak hanya itu, latar belakang Anwar Congo yang dulu merupakan preman bioskop juga membuatnya sangat familiar dengan sinema, terutama film-film asing, yang mangakar pada identitas dan kepercayaannya --- gaya pakaiannya yang dandy, kesukaannya terhadap bintang-bintang film Hollywood, metode pembunuhannya yang terinspirasi dari film, ketidaksukaannya pada golongan komunis yang memboikot AMPAI hingga membuatnya kehilangan penghidupan dan memutuskan untuk bergabung dalam operasi pembantaian, hingga kepercayaannya terhadap kekuatan ‘film’ yang akan dibuatnya bersama Joshua.


Sebagai film, Jagal memang apik. Dan juga cukup penting, sebagai film yang cukup ‘berhasil’ memantik diskursus politik tentang 1965 --- kepentingan politik, kekerasan negara, latar belakang sejarah, dan lain-lain. Banyak diskusi dan juga kritik yang kemudian muncul dipicu oleh film ini. Namun, diskursus tentang posisi sutradara dalam pembuatan film membuat film ini perlu ditinjau ulang tak hanya dari film Jagal sebagai karya semata, namun dalam konteks posisi sutradara dan juga lensa pascakolonial tentang bagaimana negara-negara ‘maju’ memandang negara-negara Selatan (the Global South) dalam membicarakan politik dan hak asasi, sementara latar belakang sejarah menunjukkan kekacauan politik tersebut justru berakar dari kekerasan dan intervensi asing yang mereka lakukan.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page