Ruang-ruang yang Politis dalam The Burmese Harp dan The 17th Parallel
- Pychita Julinanda

- Oct 4, 2020
- 2 min read
Updated: Dec 12, 2020
Bahwa politik (dan kuasa politik) menempati dan memanifestasikan diri dalam sebuah ruang fisik adalah hal mendasar yang patut dicatat baik-baik di kepala ketika melihat fenomena dan relasi sosio-politik, baik dari yang skala paling kecil dan lokal hingga skala paling besar dan global. Bagaimanapun juga, institusi paling hegemonik dalam realita sosial kontemporer pasca Westphalia, negara, jelas-jelas memerlukan teritori sebagai satu dari empat persyaratan legitimasinya, dan menjadi justifikasi bagi segala macam fenomena kekerasan untuk memperluas atau memperoleh kuasa atas suatu teritori. Kekerasan ini terjadi dalam ruang-ruang fisik yang ditempati komunitas, warga, dan masyarakat dengan nama yang berbeda-beda; konflik, perang, penggusuran, pengungsian, pendudukan, penjajahan merupakan beberapa contoh dari sekian banyak kekerasan politik yang terjadi dalam ruang fisik.
Dampak langsung dari kekerasan perang mendapat perhatian khusus dalam The Burmese Harp (1956), yang menceritakan tentang seorang prajurit Jepang masa Perang Dunia II yang terpisah dari kawanannya dan harus menempuh perjalanan—fisik maupun spiritual—dalam pencarian kawanan kompinya di tengah krisis eksistensial. Dalam perjalanannya, Mizushima menemui banyak sekali jenazah prajurit yang tak seberuntung nasibnya: tewas bergelimpangan tak terurus di negeri orang. Dalam film ini, sang sutradara Kon Ichikawa menjadikan perjalanan Mizushima, sang prajurit terdampar, sebagai refleksi kolektif atas gambaran humanisme yang lebih besar: bagaimana perang, sebagai sebuah collective atrocity (kengerian/kekejaman kolektif), mengorbankan darah dan nyawa manusia, yang memiliki kehidupan, kawan, sanak keluarga, saudara sebangsa—siapapun yang keluar sebagai pemenang perang, harga yang dibayar dengan darah adalah harga yang terlalu mahal. Long-shot yang dihadirkan kamera pun dipergunakan sebuah kesempatan untuk melihat dampak perang dengan lensa yang lebih luas. Lanskap ruang Burma tak hanya mengalami kerusakan, namun dipenuhi oleh kematian dan ketidakpastian.
Di lain perang, The 17th Parallel: Vietnam in War (1968) merekam pergulatan masyarakat Vinh Linh, Vietnam, mempertahankan ruang hidup mereka melawan imperialisme Amerika Serikat. Meski perlawanan masyarakat Vinh Linh yang direkam Joris Ivens dan istrinya Marceline jelas mencakup organisir massal paramiliteristik warga—tak peduli usia maupun gender—yang hendak mempertahankan tanahnya dari bombardir Amerika Serikat, bentuk perlawanan lain memperlihatkan bagaimana ruang fisik merupakan manifestasi dari konstruksi kekuatan sosio-politik yang dibangun oleh masyarakat setempat. Dalam menghadapi kekerasan imperialisme, kekuatan militer untuk membalas hujaman bom dan peluru tidaklah cukup. Masyarakat Vinh Linh perlu mempertahankan ruang hidup (habitus) yang ditinggali dan dihidupi, dan ruang ini hidup dari akar tradisi dan historis yang panjang, jauh sebelum terjadinya Perang Dingin maupun kolonialisme Prancis atas Vietnam. Akar tradisi dan historis inilah yang memiliki kekuatan di balik upaya-upaya masyarakat Vinh Linh mempertahankan ruang hidupnya. Montase yang dihadirkan pasangan Ivens mempertontonkan visual para petani menggarap lahan bersama-sama, menjual dan menukar barang di koperasi, rumah sederhana dijadikan tempat berkumpul dan berinteraksi, saling bantu dalam menghadapi krisis lokal merupakan visual-visual yang amat familiar dan organik dalam pengalaman ruang hidup Vietnam, dan juga Asia Tenggara secara lebih luas: sebuah kehidupan komunal yang menghidupi ruang-ruang tinggal, membentuk kekuatan resisten atas kekerasan imperialisme yang mencoba mempenetrasi ruang.



Comments