top of page

Wonderful Town, Wonderless City

  • Writer: Pychita Julinanda
    Pychita Julinanda
  • Nov 1, 2020
  • 2 min read

Tiga tahun setelah tsunami, kota kecil Takua Pa di pinggir pantai mulai kembali menjalankan pembangunan fasilitas resort pantai untuk turisme. Ton, Seorang arsitek dari Bangkok datang untuk mensupervisi pekerjaan tersebut, dan menjalani hubungan dengan Na, seorang gadis dari keluarga pemilik hotel kecil. Dengan judul Wonderful Town (2007), Aditya Assarat memberikan perspektif yang berbeda dari narasi umum tentang ruang kota [kecil] pasca bencana.


Jukstaposisi yang cukup apik tidak hanya terdapat pada judul film vs. realita pasca bencana, namun juga dalam sepanjang film --- bangunan resort yang sedang dibangun bersebelahan dengan sebuah bangunan rumah terdampak tsunami. Shot yang menampilkan lanskap kota, meski terlihat indah, diisi oleh bangunan-bangunan tua yang hampir rusak dan jarang sekali terdapat tanda-tanda kehidupan. Pegunungan, pantai, dan sawah adalah pemandangan konstan yang bisa dinikmati di kota ini dan kerap memanjakan mata, namun orang-orang kota tidak terlihat ‘menikmati’ lanskap tersebut --- populasi kota berisikan penyintas bencana tsunami, dan bahkan bencana-bencana lain berdasarkan dialog Na dengan Ton suatu malam. Kota ini digambarkan indah, namun juga membosankan. Jukstaposisi macam tersebut kemudian membuat film ini mampu menghadirkan sebuah perspektif yang berbeda tentang kota penyintas bencana tersebut, namun bukan dalam upaya eksotisasi dan mencabut ruang kota dari konteks sosialnya.


Pelintiran cerita di akhir tentang pengkhianatan, dan juga pembunuhan Ton, cukup memancing pertanyaan dan terkaan tentang muatan ‘simbol’ atau representasi di sana --- apakah Ton merepresentasikan arus pembangunan dari kota besar? Dan apakah arus dari kota besar tersebut, setelah menancapkan jejak [‘pembangunan’]nya di pinggiran, akan ‘mengkhianati’ orang-orang lokal? Apakah kemudian pembunuhan dan kematian Ton merepresentasikan sinisme orang-orang lokal terhadap arus dari kota besar tersebut?


Yang jelas, selepas kepergian Ton, hidup di kota Takua Pa, terlebih lagi hidup Na dan keluarganya yang mengelola hotel, terus berjalan. Terlepas dari apakah benar adegan tersebut merepresentasikan suatu muatan arus pembangunan, Ton memang benar datang dari kota, dan meninggalkan jejak bagi Na dan bagi Takua Pa. Namun, jejak tersebut tidak membuat kehidupan Na dan Takua Pa terjungkal balik --- kehidupan terus berjalan, dan Takua Pa akan terus memiliki harapan-harapan kecil terlepas dari pengaruh eksternal apapun, seperti dalam adegan terakhir yang menggambarkan dua anak kecil bermain dan berlarian.

Comments


Post: Blog2_Post

South Jakarta, Special Capital Region of Jakarta

©2020 by jupiterialist - Freelance Translator, Editor, Writer. Proudly created with Wix.com

bottom of page